Sesekali wanita paruh baya itu
mengelap keringatnya yang mengucur dengan ujung selendangnya, ia terus menata
dengan rapi bungkus demi bungkus susu kedelai dagangannya. Sementara orang-orang
sibuk memilih susu kedelai buatannya yang akan mereka beli. Meski banyak
pembeli yang bertanya ini dan itu, Bu Darlina tak pernah ambil pusing. Tawa
cemerlang selalu ia tunjukkan saat meladeni pelanggan setianya.
Darlina
Saragih, wanita kelahiran Medan, 6 April 1955 adalah sosok yang pantang
menyerah. Di usianya yang tergolong senja, darlina dengan telaten mengolah biji
kedelai menjadi minuman yang sarat akan manfaat. Ya, Ia adalah pembuat susu
kedelai.
Bersama
sang suami tercinta, ibu satu anak ini membangun usaha pembuatan susu sari
kedelai. Ia tidak ingin menggantungkan hidup pada anak semata wayangnya yang
kini bekerja di ibu kota.
Pagi-pagi
sekali Darlina sudah berada di emperan pasar talok untuk menjajakan susu
kedelai buatannya. Rona ceria selalu terpancar di wajahnya. Sesekali ia menyapa
pengunjung pasar yang lewat dihadapannya.
Susu
kedelai buatan wanita paruh baya ini begitu digemari masyarakat. Hal tersebut
terbukti dengan dagangannya yang langsung diserbu pelanggan ketika ia datang. “
yang saya utamakan dalam produk saya adalah kualitas mbak. Saya tidak ingin
mengecewakan pelanggan. Mbak bisa buktikan susu kedelai buatan saya rasanya
berbeda dengan yang lain”, paparnya sembari tersenyum.
Darlina
mengaku setiap harinya ia bisa menjual lebih dari seratus bungkus susu.
Masyarakat yang tidak kebagian susu saat di pasar kerap kali datang ke rumahnya
untuk membeli susu kedelai dalam jumlah yang lebih banyak.
ia
selalu bersyukur pada Tuhan karena diberikan kelancaran dalam usahnya. Sang
suami pun dengan sigap selalu membantu mengolah kedelai untuk dijadikan susu,
ditambah lagi ia juga memiliki sanak keluarga yang ringan tangan.
Ia berharap agar Susu kedelai buatannya terus
digandrungi masyarakat. Dengan begitu ia merasa lelah perjuangannya akan
terganti dengan tawa puas pelanggannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar